Setelah sebulan diJakarta,baru aku sadari semua yang disekitarku penuh dengan kebebasan. Dalam dirikupun penuh dengan kebebasan, sejak kecil aku ingin bebas,aku tidak ingin diatur atau diikat selain itu aku juga liar,apa yang dilarang itu yang aku lakukan. Aku ingat ketika kecil aku sering bermain dibawah pohon jambu dihalaman rumahku lalu papa menegurku "jangan naik kepohon,nanti jatuh" baru saja papa memalingkan wajahnya,aku sudah melompat keatas pohon dan tidak lama kemudian aku jatuh,papa marah,sangat marah, tetapi tetap saja setelah itu aku naik lagi keatas pohon,lagi,dan lagi sampai menjadi jagoan naik pohon sehingga kalau pulang sekolah aku sering disuruh teman-teman untuk manjat pohon buat nyolong buah dihalaman sekolah atau dipekarangan rumah orang. Sering juga kami sekeluarga liburan kesungai,dibilang jangan lompat kesungai,aku malah lompat,alhasil aku tenggelam dan terseret arus,perutku robek kena batu tajam dan sampai sekarang aku trauma dengan yang namanya kumpulan air besar,ya beruntung waktu itu papa bisa menangkap aku kalau tidak, mungkin sekarang aku tidak ada. Aku juga tidak mau bersekolah,dulu aku baru masuk sekolah umur 7tahun,aku tidak masuk TK karena aku tidak menyukainya,dikelas satu pelajarannya "b+a=ba,b+u=bu jadi ba+bu=babu" aaarrkkkk aku sudah tahu,aku sedah membaca novel saat itu,aku sudah hafal perkalian 1 sampai 10, sudah bisa pembagian berekor jadi aku diloncatkan ke kelas3, karena itu aku cendrung menyendiri. Anak-anak perempuan sering memojokkanku,aku benci mereka,dirumah juga penuh dengan perempuan,karena kami 5 bersaudara perempuan semua,mama juga sering marah-marah karena keadaan ekonomi yang masih susah,guru-guru disekolah yang didominasi perempuan juga seperti penyihir yang berwajah garam,sering mencemooh dan mencubit,aku benci perempuan,aku benci diriku,aku tidak mau jadi perempuan dan sejak itu aku merubah diriku menjadi 'TomBoy'. Aku aman dengan sifat baruku ini,aku bisa lebih menikmati kesendirianku,keliaranku dan kebebasanku. Jika pulang dari sekolah aku tidak langsung pulang,aku duduk sendirian disuatu tempat, hanya duduk,tidak melakukan apa-apa karena aku suka sendiri. Setelah punya motor,aku keliling kota, berhanti disuatu tempat dimana aku merasa aman dan damai. Teman-temanku semuanya laki-laki,aku nyaman dengan mereka dan mereka menjagaku. Jika aku menemukan perempuan yang didiskriminasi seperti aku, aku membelanya dan tidak akan membiarkan orang lain mengganggunya, jadi teman-teman sering mengataiku lesbian. Aku tidak peduli,sungguh tidak peduli,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Aku benci dengan fisikku yang sakit-sakitan,dengan bergaya seperti laki-laki aku bisa menyamarkan tubuh kurusku dengan baju dan celana yang maco. Ketika kecil aku pernah dipukuli samapai pingsan karena uang mama hilang tetapi aku yang dituduh,aku benci kejadian itu,karena itu aku tidak pernah akrab dengan mama dan adik-adikku, ya memang saat itu adikku yang mencuri uang itu,beberapa hari setelah itu dia mengakuinya.
Saat kuliah,aku ingin hidup normal, tidak ingin menyendiri lagi,dikota yang baru dan teman-teman baru, tidak ada yang mengenal siapa aku yang lama jadi aku mulai dengan yang baru. Aku berdamai dengan semua keadaan yang pernah aku kutuk,aku mulai berteman dengan siapa saja,perempuan maupun laki-laki. Tapi tetap saja sikapku masih seperti cowok karena ada seorang teman difakultasku yang juga tomboy, jadi kalau turun dari lantai dua gedung laboratorium,kami tidak menggunakan anak tangga tetapi meluncur dengan duduk dipegangan tangganya,sangat menyenangkan. Berubah dan terus berubah,aku menjadi modis seperti perempuan pada umumnya dan semakin hari aku mulai menyukai diriku yang sekarang. Saat ini aku tidak bisa keluar tanpa high heels,tanpa baju yang modis,make up yang pas dengan pakian dan berjalan dengan tegak. Aku menyukai perempuan dan aku memutuskan untuk tahu lebih dalam tentang perempuan. Aku kenal banyak pempuan luar biasa dalam keseharianku sejak aku kecil hingga saat ini. Terutama ketika berkuliah dimana aku baru membuka mataku bahwa menjadi perempuan itu luar biasa. Saat aku diJakarta, aku masih membawa sifat liarku,ditambah dengan gaya hidup kota Jakarta yang luar biasa liar,aku bisa menikmati banyak hal disini mulai dari kelaparan karena kehabisan uang sampai aku pernah berpikir untuk mencuri,pernah juga makan disalah satu restoran asing dalam Grand Indonesia dimana pelayannya menggunakan taksudo dengan desain ruang yang luar biasa mewah,makan makanan eropa yang membuatku mau muntah dan wine white label yang membuat aku serasa disorga.
Aku melakukan banyak hal yang gila. Saat pergi dari Kota tempat aku berkuliah,kota Salatiga yang manis, aku baru putus dengan pacar yang aku cintai. Jadi hari-hari awal aku diJakarta penuh dengan rasa rindu, aku menghubungi teman-temanku yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri untuk mencurahkan kesepianku tetapi itu belum cukup. Aku baru tenang ketika aku tidur berpelukan dengan mereka (sister-sisterku) kerena begitulah kami biasanya menyelesaikan masalah. Kami bercerita bersama,berbelanja bersama,memasak bersama,saling mendandani,tertawa bersama,berteriak bersama, menangis bersama, tidur bersama bahkan mandipun pernah bersama ketika mendesak. Karena aku kehilangan sister-sisterku, aku mencari penyelesaian lain dengan mencari pengganti pacarku. 10bulan sudah aku diJakarta, sudah 14orang laki-laki yang aku pacari sebagai pelarian. Mulai dari anak SMA sampai yang sudah mapan, mulai dari seorang waitres sampai seorang manager,mulai dari orang lokal sampai warga negara asing. Kini aku bosan,aku capek,aku tidak mau lagi,aku sadar ini gila sebelum aku kena batunya. Aku sadar ketika PUTRI, sahabatku baruku melahirkan bayinya tanpa seorangpun yang menemani selain aku.
"Aku hamil" kalimat yang mengejutkanku keluar dari mulut Putri dengan bibir gemetaran,air mata yang mulai terdududk dikelopak mata bagian bawah,wajah gelisah dan putus asa. Sementara itu aku juga mulai ketakutan,karena aku tahu benar,Putri sudah putus dengan pacarnya dan pacarnya tidak pernah bisa dihubungi lagi entah menghilang kemana,orang tua Putri entah dimana,dulu dia hidup dijalanan, baru 2tahun ini dia bekerja sebagai pelayan di toko kue, tidak punya tabungan karena gajinya hanya pas untuk membayar kos,dan makan setiap hari,dikosan hanya kami berdua tidak ada yang lain,ibu kos juga sering kesal dengannya karena selalu telat membayar uang kos. Lalu bagaimana? aku bingung,labih dari itu semua saat ini dia hanya punya aku. Lalu apa? Aku bingung! Jika kepalaku penuh dengan kebingungan lalu bagaimana dengan isi kepala Putri? Pasti lebih parah dariku,ya lebih parah,air matanya telah menggomunikasikan semuanya. Dia hanya menangis tidak berkata apa-apa,tetapi aku mengerti,semua tertulis lengkap dalam air matanya; penyesalan,kebingungan, kekecewaan,ingin berlalari,ingin mati,ingin sendiri,ingin minta tolong,ingin bertanya,ingin jawaban,ingin berteriak sampai tak bisa lagi berteriak. Dia terluka,terluka terlalu dalam,sangat dalam,aku bisa merasakan lukanya sampai aku menulis blog inipun aku masih menjatuhkan air mata karena masih merasakan sakit dari luka dalam diri Putri. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain bilang "sini tidur denganku malam ini,aku akan memelukmu,aku akan membantu sampai aku benar-benar tidak bisa bergerak lagi untuk membantu,aku akan memberi sampai tidak ada lagi yang bisa akau beri" tetapi dia terus menangis,kami menangis bersama.
Hancur,semuanya hancur, itu yang ada dalam pikiranku ketika kesokan harinya setelah pulang ngantor aku tidak menemukan Putri dikos. Karena Putri bekerja tidak terlalu jauh dari kos maka Putrilah yang selalu tiba lebih dahulu dikos. Aku panik, aku cari ke tempat kerjanya tetapi dia tidak masuk,aku mencari tanpa arah,aku masih ingat saat itu benar-benar tidak tahu harus minta bantuan siapa dan menghubungi siapa. Ingin segera bertemu,memeluknya dan bilang "drop everything now baby,take away the pain with me" tetapi aku tidak bertemu dengannya. Keesokan harinya ketika aku pulang kerja,Putri dengan senyum pura-puranya sedang duduk didepan pintu kamarku dan menyambut dengan kata-kata "aku sudah bilang sama ibu kos kalau mulai hari ini aku sekamar denganmu kak,pasti kakak tidak keberatan kan?,aku juga sudah bilang kalau aku hamil". Dengan senyum yang lebar aku membalas "tentu tidak apa-apa,aku sudah janji akan melakukan apapun untukmu. Dari mana kamu? lalau apa respon ibu kos? tadi kamu kerja?". Putri menjawab "Ibu kos syok,dan menceramahi aku berjam-jam,kemarin aku tidur dekat bundaran HI,tempat aku biasa nongkrong dulu,tadi aku tidak kerja tetapi sudah izin untuk 3hari ini tidak masuk,aku akan kerja sampai perutku membengkak dan seragam kerja tidak muat lagi dibadanku,aku kan harus mengumpulkan uang" saat itu aku mengerti kalau dia telah mengambil keputusan untuk melahirkan bayinya,dan aku tidak perlu mempertanyakan lagi apapun yang bisa membuatnya berubah pikiran,umurnya baru 18tahun dengan mudah dia bisa saja kehilangan akal sehatnya.
Hari-hari berlalu,tetangga mulai membicarakannya,karena kami kos ditempat yang padat dimana penuh dengan gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh 2orang saja. Tatapan mata penuh tuduhan mengarah kepada kami ketika kami berjalan bersama,terkadang aku dinasehati untuk menjauhinya. Setiap hari Putri harus berusaha kuat untuk mempertahankan fisiknya yang mulai sulit dikendalikan karena bayinya mulai turut andil dalam mengendalikan tubuhnya,harus berusaha memepertahankan mental dari para tetangga,lingkungan kerja dan apa yang akan dia hadapinya nanti saat melahirkan.
Hampir setiap malam dia terbangun karena banyak hal,buang air kecillah,sakit inilah,itulah,pengen ini-itu, setelah diupayakan malah kepinginnya hilang,baju-bajunya tidak muat lagi,dan banyak hal-hal yang membuatku capek plus bangga padanya maupun pada diriku. Untuk mempersiapkan perlengkapan bayi yang tidak sedikit dan tidak murah,dia merayu tamu-tamu tokonya dan yang termakan rayuan akan diporotin, aku juga terlibat tentunya,kebetulan selain kerja siang,aku juga kerja malam dikarokean selama sebulan dan uangnya lumayan untuk biaya melahirkan, sementara untuk biaya periksa atau cekUpnya,aku bohong aja dikit sama pacar-pacar aku,tamu-tamu aku dikaroken,kalau aku punya adik yang sedang hamil dan bla,bla,bla,,,,, maka dapatlah aku uang untuk Si Putri kadang mereka yang menjemput kami dengan mobil keklinik. yah penuh perjuangan yang tak akan aku lupakan.
Tibalah hari untuk melahirkan sikecil,tapi saat itu usia kandungannya baru memasuki 8 bulan,malam yang sangat mencekam itu masih jelas dimemeoriku. Darah belepotan pada daster yang dipakai Putri,dia menangis dan merintih,aku bangunkan ibu dan bapak kos yang rumahnya tidak begitu jauh,tapi ibu kos malah tidak mau ikut campur katanya takut kalau siPutri mati gimana natar dia yang disalahkan dan bertanggung jawab, ah aku kesal; orang mati tinggal dikubur aja kan? bagi ku selama seseorang masih bernapas dan ada kesempatan untuk ditolong aku akan lakukan apapun sekalipun hanya menangis yang bisa aku lakukan maka aku akan menangis,tetapi kalau sudah mati ya sudah untuk apa diusahakan atau ditangisi,kan sudah mati tidak akan ada lagi yang berubah,itu prinsipku. Dengan kesal aku minta bantuan abang-abang ojek yang sering menyapaku, lalu mereka dengan cepat menolong,memang ya,inilah keunggulan dari laki-laki 'melakukan dulu baru berpikir' dari pada perempuan 'mikir dulu baru melakukan' untuk saat seperti ini perempuan tidak bisa dibenarkan. Sampai diklinik,kata dokter posisi bayinya terbalik alias kaki dibawah jadi tidak bisa melahirkan secara normal,si Putri juga sudah sangat lemah sehingga harus dibantu dengan oksigan dan harus segera disesar. Haaaa???? Aku teringat mamaku,"beginikah dulu ketika ibuku melahirkan aku? dan beginikah kebingungan yang menghampiri papa? Aku tidak tahu,aku bukan siapa-siapa yang bisa mengambil keputusan,,,,,,,, Tapi akhirnya "ya,disesar saja" itu jawaban saya, lalu saya mengurus atministrasinya karena harus bayar 3juta rupiah didepan. Lalu saat operasi berlangsung,aku hanya bisa berdoa "Tuhan aku tidak mau tidur sendiri,aku ingin tidur bertiga setelah hari ini" itu lebih dari cukup untuk mengutarakan semua isi hatiku. Putri sempat kekurangan darah,untungnya beberapa tetangga dan ibu kos menyusul kami dan itu sangat membantu kami. Hari itu adalah tanggal 20 Sebtember 2011,hari dimana 'Putra' keponakanku lahir. Putra lahir hanya dengan berat 2,3kg karena itu dia harus inkobator untuk sebulan lebih kata dokter. Putri masih harus mengalami pemulihan karena luka operasi yang besar diperutnya. Untunglah para tetangga berubah menjadi salut pada Putri, dan mulai menunjukkan perhatian mereka. Tiap kali Putri bilang "kak,sakit" aku langsung berteriak "kamu g boleeh sakit,kamu sudah bukan anak remaja lagi,kamu seorang ibu" dia selalu menanggapinya dengan senyum,tapi dia masih menyimpan luka,aku tahu itu,dia belum bisa menikmati masa menjadi ibu ini. Melihat Putra yang baru berumur 4hari saat itu,aku sedih,aku tahu putri tidak begitu menyukai keadaan anaknya, lalu aku selalu mengatakan hal ini pada Putra " Putra,jangan pura-pura tidak tahu ya sayang, kamu ada dan kamu tahu ketika ibumu begitu berusaha keras untuk mempertahankanmu,jadi jangan manja ya, jangan sakit-sakitan, harus cepat besar, harus cepat merangkak dan berbicara biar ibumu senang" selalu aku katakan hal yang sama tiap kali aku sedang berduaan dengan Putra. Aku percaya dia mengerti,ya itu yang aku ketahui dari beberapa buku embriologi dan psikologi. Eh ternyata teorinya benar hanya butuh waktu 9 hari bagi Putra untuk menaikan berat badannya menjadi 3,7kg dan keluar dari inkobator padahal hanya mengkonsumsi susu toko karena ASI ibunya tidak keluar. Putri sudah membaik seiring dengan Putra yang makin menggemaskan,kami sering dibantu tetangga untuk mengurus Putra,kalau aku kekantor,ya si Putri ditemani ibu kos dan tetanga-tetangga, bantu mandiin Putri,mandiin Putra,nyuci baju putri,nyuci barang-barang Putra,bikinin susu dan lain-lain . . . Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri "Aku dan anakku tidak akan seperti ini kelak,aku akan menjaga diriku dan masa depanku". Aku kini tahu inilah Perempuan,lebih dari sekedar perempuan, dan aku tidak pernah lagi menyesali diriku. Putri dan Purta memberi pelajaran yang menghilanhkan kenaifanku. Aku mencintai mereka.

Bagus banget. Semula saya pikir cerpen. Eh ternyata kisah nyata yang dikemas dengan gaya cerita apik. Imajinatif dan inspiratif. Teruskan.
BalasHapus